TAKALAR, UJUNGJARI–Tim penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Takalar, terus menggenjot penyidikan kasus korupsi proyek pengerjaan talud di Kecamatan Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar. Pasca menahan dua tersangka, tim jaksa kini menyasar sejumlah pihak yang diduga kuat ikut terlibat serta menerima manfaat terkait rusaknya bengunan talud bernilai Rp,6 miliar tersebut.
“Kemungkinan jumlah tersangka dalam kasus tersebut bakal terus bertambah,” kata seorang penyidik Kejaksaan Negeri Takalar yang enggan disebutkan jati dirinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Kejaksaan Negeri Takalar, Tenriawaru yang dikonfirmasi, Kamis (27/02/2025) terkait perkembangan perkara korupsi Talud Tanakeke, tidak memberikan keterangan. Pesan singkat yang dilayangkan via WhatsApp tersampaikan namun tidak dijawab.
Informasi internal www.ujungjari.com, menyebutkan, tim jaksa telah mengagendakan pemeriksaan maraton kepada lelaki ZL, Pelaksana Lapangan CV PPO. Pemeriksaan akan dilakukan pada Kamis, 6 Maret 2025.
Terpisah, Wakil Ketua DPN Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GNPK), Ramzah Thabraman memberikan apresiasi kepada Kejari Takalar dalam mengungkap kasus korupsi talud Tanakeke.
“Saya berharap Kejari Takalar mengungkap hingga ke aktor intelektual pelaksanaan proyek ini. Seret semua pihak yang terlibat ke hadapan hukum,” tegas Ramzah.
Diketahui, Kejari Takalar pada Senin malam, 24 Februari 2025, menahan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan talud di Kecamatan Kepulauan Tanakeke. Setelah menjalani pemeriksaan intensif, kedua tersangka langsung ditahan di Lapas Kelas II B Takalar.
Proyek talud yang berlokasi di Desa Tompo Tanah dan Desa Maccini Baji ini menghabiskan dana sebesar Rp1,6 miliar dari APBN 2023. Namun, talud yang baru saja selesai dibangun itu sudah mengalami kerusakan dalam waktu kurang dari setahun. Kondisi ini memicu laporan dari masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti oleh Kejari Takalar.
Kajari Takalar, Tenriawaru, mengungkapkan bahwa penetapan kedua tersangka dilakukan setelah adanya bukti kuat dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek tersebut.
“Kami telah menetapkan dua tersangka, yaitu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) berinisial JM dan kontraktor berinisial JH. Berdasarkan hasil penyidikan, keduanya diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian negara,” ujar Tenriawaru.
Penetapan ini setelah Kejari Takalar menerima hasil audit dari Insfektorat Takalar yang menyebutkan adanya kerugian negara kurang lebih sebesar Rp631.444.200.
Kasus ini berawal dari laporan masyarakat yang melaporkan kerusakan talud meskipun baru saja dibangun dengan spesifikasi tinggi 1,6 meter dan panjang 1.600 meter. Kejari Takalar mulai menyelidiki kasus ini sejak Agustus 2024 dan mengubah statusnya menjadi penyidikan pada Oktober 2024.
Dalam proses penyidikan, Kejari telah memeriksa berbagai pihak yang terlibat, termasuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), konsultan pengawas, serta kontraktor proyek.
Kedua tersangka, JM (PPK) dan JH (kontraktor), kini ditahan di Lapas Takalar selama 20 hari terhitung mulai 24 Februari hingga 15 Maret 2025. Mereka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU RI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah dengan UU RI No.20 tahun 2001 Jo. Pasal 55 KUHPidana. (*)