MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Usai melakukan audiens dan kunjungan ke Kabupaten Bone pekan lalu, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) FIP UNM langsung melatih para mahasiswa pada diklat Pengembangan Kompetensi Tutor Keaksaraan sejak Sabtu (14/9/2019) hingga Minggu (15/9/2019).
Kegiatan ini bertujuan untuk membekali pengetahuan dan keterampilan mengajar calon tutor program pemberantasan buta aksara di Kabupaten Bone.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Ketua Jurusan PLS FIP UNM Dr. Kartini marzuki, M.si bahwa program pemberantasan buta aksara di Kabupaten Bone akan dilaksanakan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Dua Boccoe dan Ajanggale.
Untuk kecamatan Ajangngale, kata dia, tersebar di 7 desa yaitu Desa Lempangeng, Desa Allamungeng Putue, Desa Timurung, Desa Labissa, Desa Opo, Desa Pinceng Pute dan Desa Manciri.
Sementara di Kecamatan Dua Boccoe tersebar di 4 desa yaitu Desa Prajamaju, Desa Panyili, Desa Mario, Desa Laccori.
Kartini Marzuki mengatakan, sebelum mereka turun mengajar, lebih dulu mengikuti diklat. Adapun mahasiswa yang telah mengikuti diklat Tutor, kata dia, sebanyak 125 orang dan akan menghadapi warga belajar buta aksara sebanyak 1.500 orang yang dibagi menjadi 150 kelompok belajar.
Menurut Kartini, program ini merupakan program perguruan tinggi mengabdi. Dimana, lanjutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam kegiatan pemberantasan buta aksara sangat dibutuhkan.
“Kami tidak boleh hanya berteori belaka di dalam kelas tetapi harus menunjukkan kemampuan kami di masyarakat, apalagi kami dari Jurusan PLS,” tegas Kartini, Minggu (15/9/2019).
Sementara itu, ketua panitia kegiatan, Dr. Rudi Amir, S.Pd., M.Pd mengatakan, sebelum mereka diterjunkan ke lapangan, sangat penting dilaksanakan diklat.
Sebab, lanjut Rudi, mengajar pada program ini sangat jauh berbeda dengan mengajar di sekolah.
“Di sini tutor harus harus mampu mengajar secara menyenangkan, sebab warga belajar yang dihadapi motivasinya untuk belajar sangat kurang. Bahkan bisa jadi ada diantara mereka sudah tidak mau belajar tetapi harus dibelajarkan juga,” ujar Rudi.
Dalam pelatihan ini mereka dibekali materi tentang kurikulum dan perencanaan pembelajaran keaksaraan, metode dan teknik pembelajaran keaksaraan, praktek pembuatan silabus dan RPP pembelajaran keaksaraan dan melakukan simulasi pembelajaran.
Selain itu, kata Rudi, mereka juga dibekali pengetahuan tentang budaya masyarakat sasaran agar dapat diterima dengan baik oleh warga.
Rudi mengatakan, bisa dibayangkan betapa sulitnya membelajarkan mereka. Menurutnya, ini merupakan tantangan berat dalam menyelenggarakan pendidikan keaksaraan.
“Tetapi apabila kita mampu membuat masyarakat bisa membaca, menulis dan berhitung maka itu menjadi suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak ternilai bagi kami,” jelas Rudi. (rls)