DUNIA politik memang identik dengan pilihan hidup. Ketepatan memilih membuat seorang politisi memiliki karier panjang. Sebaliknya, jika salah memilih, karier bisa tamat seketika.
Drama pilih-memilih juga dialami politisi Partai Golkar, Muhammad Fauzi. Pria yang akrab disapa Abang Fauzi ini membuat pilihan baru yang menghentakkan dunia politik di Sulawesi Selatan.
Suami Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani ini memilih melepas kursi DPR RI yang susah payah diperjuangkannya pada pemilu legislatif Februari 2024 lalu. Fauzi bertarung di Dapil Sulsel III yang meliputi Kabupaten Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Palopo, Luwu Timur, dan Luwu Utara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fauzi melenggang ke senayan dengan meraih 99.690 suara. Sejatinya ia hanya menunggu pelantikan anggota DPR RI yang dijadwalkan pada 1 Oktober 2024 mendatang. Tapi ia memilih mundur dan merelakan kursinya ke caleg Golkar lainnya, Agustina Mangande.
Tentu banyak yang bertanya. Bahkan tidak setuju dengan sikap Abang itu. Soalnya, Fauzi dianggap sosok wakil rakyat yang sejauh ini memiliki komitmen untuk pembangunan di daerah pemilihannya. Ini bisa dilihat dari buah karya perjuangan Fauzi lima tahun terakhir untuk Luwu Raya pada khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya.
Pembangunan ruas jalan Masamba-Seko dan rusunawa Pondok Pesantren As’Adiyah Belawa Baru adalah sebagian bukti perjuangan Fauzi untuk masyarakat Luwu Utara. Selain itu juga ada revitalisasi drainase yang tersebar di Palopo, Belopa hingga Kabupaten Enrekang.
Jika Fauzi tidak lagi di DPR RI, lalu siapa lagi sosok politisi yang akan memperjuangkan aspirasi dan keinginan Luwu Raya di senayan?
Dari segi pendapatan dan fasilitas juga demikian. Fauzi memilih mundur dari DPR RI sama saja mengabaikan godaan pendapatan dan fasilitas anggota DPR RI yang sungguh sangat menggiurkan.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan nomor S-520/MK.02/2015 dan Surat Edaran Setjen DPR RI No.KU.00/9414/DPR RI/XII/2010, setiap anggota DPR RI bisa menerima minimal Rp50 juta per bulannya. Jumlah tersebut terdiri dari gaji pokok, tunjangan istri, tunjangan anak, tunjangan jabatan, tunjangan beras, tunjangan PPH pasal 21 dan uang sidang. Ini belum termasuk tunjangan kehormatan, tunjangan komunikasi intensif, tunjangan pengawasan, uang reses, dan lainnya yang nilainya sekali lagi sangat fantastis.
Tapi Fauzi tidak tergiur dengan godaan itu. Ia memilih mundur dan menyerahkan kursinya ke caleg Golkar lainnya, Agustina Mangande. Agustina merupakan istri Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang. Fauzi menerima panggilan pulang kampung bertarung sebagai calon bupati Luwu Utara.
Keputusan Fauzi mundur dari DPR dan maju di Pilkada Luwu Utara tentulah tidak gegabah. Pasti didasari sejumlah argumen dan penuh dengan pertimbangan matang. Desakan yang begitu besar dari masyarakat Lutra dan juga penugasan dari DPP Partai Golkar membuatnya bulat maju sebagai bakal calon bupati di Luwu Utara.
“Bismillah, saya memutuskan maju tak lain karena begitu besarnya desakan dari masyarakat Lutra bgitu juga dengan partai yang menugaskan untuk bertarung. Saya memohon doa dari semua pihak agar bisa menjalani proses pilkada ini dengan baik dan meraih kemenangan nantinya,” kata Fauzi.
Abang Fauzi mengatakan, dia dan keluarga awalnya telah memutuskan dirinya mengabdi di DPR RI untuk periode kedua dan memenangkan kandidat yang diusung partai.
“Hanya saja, ada ratusan pesan dari berbagai tokoh masyarakat hampir di semua desa di Luwu Utara yang ingin saya maju. Semoga pilihan ini yang terbaik untuk masyarakat Lutra,” jelasnya.
Di Pilkada Luwu Utara, Muhamammad Fauzi berpasangan dengan Ajie Saputra. Ajie sendiri merupakan putra mantan Bupati Luwu Utara, Arifin Junaedi.
Paket Fauzi-Ajie akan bersaing dengan tiga kandidat lainnya. Mereka adalah pasangan Andi Abdullah Rahim-Jumail Mappile, pasangan Suaib Mansur-Triyono Kusnan, dan pasangan Arsyad Kasmar-Muh Fajar Jabir.
Peluang Fauzi melanjutkan kepemimpinan sang istri, Indah Putri Indriani sangat besar. Itu tergambar dalam survei elektabilitas calon bupati Luwu Utara yang dilakukan Citra Publik Indonesia (CPI) periode 28 Juli hingga 3 Agustus 2024. Dalam survei itu CPI menyebut elektabilitas Fauzi jauh melampaui tiga rivalnya.
Elektabilitas Muhammad Fauzi atau Abang tertinggi mencapai 54,3 persen. Disusul posisi kedua Andi Abdullah Rahim 13,6 persen, lalu Suaib Mansur 12,7 persen dan Arsyad Kasmar hanya 7,7 persen. Sedang swing voters atau suara mengambang masih cukup tinggi yakni 11,6 persen.
Kita tunggu saja hasil pemungutan suara pilkada serentak 27 November mendatang. Boleh jadi pengabdian Abang hanya berpindah ruang. Dari Senayan ke Luwu Utara. Kita tunggu saja! (Muh Darwin)