MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan budidaya pisang cavendish di Sulsel bisa mendorong perputaran uang hingga Rp180 triliun per tahun. Hal ini bisa dicapai jika pemanfaatan 500 hektar lahan tidur di Sulsel untuk budidaya pisang cavendish bisa dimaksimalkan.

Untuk melihat ekosistem budidaya pisang yang dibentuk Kepala OJK Sulselbar, Darwisman, melakukan peninjauan pusat pembibitan pisang Cavendish di Pusat Pembibitan Pisang Unhas, Minggu, 10 Desember 2023. Peninjauan ini dilakukan bersama-sama Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, Pimpinan OJK RI, serta sejumlah pimpinan perbankan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka yang hadir dari OJK, yakni Ketua Dewan Komisioner OJK-RI, Mahendra Siregar; Deputi Komisioner Hubungan Internasional, APU-PPT dan Daerah, Bambang Mukti Riyadi; Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor OJK Sulselbar, Budi Susetiyo; Deputi Direktur Pengawasan LJK Kantor OJK Sulselbar Steven Parinusa dan Deputi Direktur LMS, Koordinasi Daerah Kantor OJK Sulselbar, Bondan Kusuma.

Darwisman optimistis, budidaya pisang cavendish menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan penghasilannya. Varietas pisang cavendish populer secara komersial, dan memiliki daya tahan serta permintaan pasar yang tinggi.

“Dengan target pemanfaatan 500 ribu hektar lahan tidur di Sulsel, budidaya pisang dapat mendorong perputaran uang sebesar Rp180 triliun setiap tahunnya,” ungkapnya.

Dari sisi bisnis, ungkap Darwisman, berdasarkan hasil assesment dari agricultural expert (ahli pertanian), pada setiap satu hektar lahan budidaya pisang cavendish, akan menghasilkan nilai pendapatan kotor Rp360 juta. Dengan asumsi, populasi pisang sebanyak dua ribu pohon, dengan produktivitas 20 kg per pohon, dan harga jual Rp4.500 per kg.

Sementara total biaya produksi, termasuk tenaga kerja dan land clearing tahun pertama sebesar Rp99,3 juta. Biaya produksi tersebut akan semakin rendah pada tahun-tahun berikutnya, yang diproyeksikan turun 50 persen. Sehingga nilai laba bersih di luar pajak diproyeksikan sebesar Rp260,7 juta pada tahun pertama dan akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami optimistis ini akan jalan. Peluang ini sangat besar,” ungkapnya.

Menurut Darwisman, jika melihat penyaluran kredit perbankan di Sulsel per September 2023, di sektor pertanian relatif masih rendah. Yaitu sebesar Rp12,5 triliun atau hanya 7,89 persen dari Rp152,7 triliun. Namun menunjukkan memiliki potensi pasar penyaluran kredit sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan yang cukup besar. Sehingga kredit untuk usaha pisang cavendish didukung.

“Pemerintah serius untuk program pisang ini. Mulai dari dana operasional, penyediaan bibit dan dukungan lainnya,” tandasnya.

Darwisman menilai, budidaya pisang cavendish yang digagas Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, dapat mendorong implementasi 4 dari 8 Program Prioritas. Diantaranya, Pengendalian Inflasi, Penanganan Stunting dan Gizi Buruk, Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, dan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan. (drw)