Site icon Ujung Jari

Anak Korban Bantah Tudingan Pelecehan, Kapolres Sebut Sudah Amankan Enam Pelaku, Tujuh Buron

GOWA, UJUNGJARI.COM — Anak korban bernama Sri membantah keras jika dikatakan peristiwa penganiayaan yang dilakukan para pelaku dan mengakibatkan ayahnya Mansur Seha (46) tewas berdarah adalah karena pelecehan, sangat tidak benar.

Sri menegaskan beberapa hari sebelum kejadian ayahnya Mansur Dg Seha pernah mengklarifikasi kepada semua keluarganya termasuk kepada Sri bahwa ayahnya tidak pernah melakukan perbuatan pelecehan terhadap siapapun, apalagi terhadap Y, perempuan yang konon menyulut aksi kekerasan yang dilakukan sejumlah warga pada Senin (6/3/2023) pada pukul 02.30 Wita itu.

“Itu fitnah, karena orangtua saya sendiri tidak pernah menyentuh perempuan pihak manapun bahkan terhadap perempuan Y dari kalangan oknum yang datang melakukan penganiayaan tersebut,” kata Sri.

Dikatakan Sri, ayahnya saat mengklarifikasi masalah tersebut, mengaku ketika itu hanya memberikan sapu kepada perempuan yang dimaksud tersebut.

“Kalau cerita bapak saya itu tidak ada sama sekali tindakan pelecehan cuma beliau memberi sapu, itu juga jaraknya agak berjauhan. Dugaan yang diarahkan kepada bapak saya itu sudah fitnah,” jelas Sri.

Terkait serangan tiba-tiba dirumahnya pada Senin dinihari itu, Sri mengatakan, malam itu sekelompok orang datang menyerang kerumahnya. Jumlahnya berkisar kurang lebih 30 orang langsung menyerang.

“Puluhan orang itu masuk lewat pintu depan. Ada juga yang masuk dari belakang. Jumlahnya sekitar 30 orang. Lima orang masuk dari depan lima orang masuk dari belakang selebihnya di luar,” papar Sri mengaku menyaksikan aksi serangan malam itu dirumahnya.

Bahkan para pelaku yang ada di luar melempari rumahnya. Ada juga pelaku lainnya yang masuk melalui jendela rumahnya.

“Malam itu bapak saya sedang tidur di dalam kamarnya. Saat dengar ada keributan, bapak saya bangun dan langsung bersembunyi tapi ditemukan para pelaku yang sudah mengobrak abrik kamar bapak saya. Bapak saya sempat melakukan perlawanan dengan melempari pelaku lalu kabur ke area persawahan. Saya sendiri bersama ibu dan lainnya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya takut karena para pelaku membawa parang dan sabit. Tidak ada satupun orang-orang itu saya kenal. Tapi kalau adekku ada yang dia kenal satu orang yang pelaku di atas rumah. Mereka (pelaku) tidak ada yang pakai topeng. Semuanya kelihatan mukanya, polos ji. Tapi cuma satu orang yang adek saya kenal,” ungkap Sri.

Sementara itu, dikonfirmasi Selasa (7/3/2023) sore, Kapolres Gowa AKBP Reonald Simanjuntak menjelaskan adanya perkembangan dari penanganan kasus penganiayaan berbuntut tewasnya petani di Dusun Kappoloe, Desa Parangloe, Kecamatan Biringbulu pada Senin (6/3/2023) dinihari itu.

Dikatakan Reonald, jika dari kasus ini sudah ada enam terduga pelaku diamankan dari 13 nama terduga pelaku yang terdata Kepolisian.

“Sudah enam orang terduga pelaku berhasil kami amankan. Dari hasil penyelidikan kami terdata sebanyak 13 orang terduga pelaku pengeroyokan tersebut. Jadi sisa tujuh orang buron dan dalam pengejaran kami. Dari enam orang terduga pelaku itu, dua diantaranya menyerahkan diri dan empat lainnya kita amankan di kediaman masing-masing,” kata Reonald.

Kapolres juga menyebutkan bahwa yang melatarbelakangi kasus penganiayaan berakhir tewasnya korban Mansur Seha diindikasi kasus siri’.

“Korban Mansur diduga melecehkan seorang perempuan berinisial Y. Mansur diduga melecehkan Y di atas rumah nenek Y yang akan melakukan acara takziyah di Desa Parangloe tersebut pada Minggu (5/3/2023) malam. Jadi, yang melatarbelakangi penganiayaan adalah siri’. Di Makasaar ini ada tradisi siri’. Siri’ itu artinya seperti marwah atau kehormatan yang tidak dihargai oleh orang lain. Indikasi sementara Y diduga dilecehkan oleh Mansur sehingga kakak Y kemudian merencanakan aksi pengeroyokan terhadap korban dengan mengajak beberapa temannya itu,” ungkap Kapolres.

Meski dugaan awal diduga karena pelecehan namun Reonald mengatakan pihaknya masih menyelidiki kebenaran dugaan pelecehan tersebut. Reonald mengakui indikasi pelecehan itu belum bisa dibuktikan betul terjadi atau tidak. –

Exit mobile version