Oleh: Andi Fadli, Mantan Wartawan Harian, Radio dan Tv-freealancer
LAPATAU adalah simbol. Demikian Andi Fashar M Padjalangi kepada penulis dan sebagian wija keturunan di sebuah café bilangan Jl Hertasing beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
’’Puatta Raja Lapatau merupakan simbol pemersatu. Karena dari Puatta Lapatau, wija tersebar ke pelosok nusantara hingga luar negeri,’’ ungkap Bupati dua periode ini sambil menikmati cemilan dan teh panas sore hari.
Tanpa harus mengatakan atau membandingkan, bahwa Raja Bone lain tetap menjadi simbol, apalagi Arung Palakka Petta Malampe e Gemmenna yang menjadi King of Boegis atau Raja Bugis. Namun Arung Palakka seperti di ketahui tidak mempunyai keturunan langsung, akhirnya tahta berlanjut ke ponakan.
Pernyataan dalam sebuah kalimat padat dan jelas itu bukan tanpa sebab Puatta adalah Mangkau (Raja Bone) XV1 yang juga merupakan Datu Soppeng. Rentang waktu usia 30 hingga 40 tahun, Mangkau Puatta telah memerintah dengan bijaksana serta sangat mengayomi.
Itulah karakter pemimpin yang sangat disukai oleh rakyat Bugis, Makassar hingga daerah lain saat menjadi Raja Bone dan Datu Soppeng, yang ditulis oleh beberapa sejarawan.
Bernama lengkap YM Puatta Lapatau Matanna Tikka Matinroe Ri Nagauleng sebagai simbol inilah membuat awalnya ide empat orang di warkop hingga melahirkan panitia besar yang ingin berniat melakukan silaturahmi akbar akhir bulan depan di kota Watampone.
Panitia besar telah terbentuk dengan Ketua Umum Andi Bau irman Mappanyukki cucu langsung Raja Bone Puatta Andi Mappanyukki dan Andi Dahrul sebagai Sekretaris Umum. Tujuan hanya ingin bersilaturahmi, temu kangen alias melepas rindu.
“Kita muddani untuk bertemu para kerabat dan turunan Wija Puatta Lapatau,” kata Bau
Irman yang diamini oleh Andi Dahrul beberapa waktu lalu.
Keinginan untuk silaturahmi telah disepakati berlangsung di kabupaten Bone sebagai tuan rumah mendapat sambutan baik dari pemerintah daerah, baik selaku Bupati maupun sebagai Wija Turunan.
Semua sepakat, bukan tempat atau ajang untuk mencari silsilah trah bangsawan paling tinggi. “Kita silaturahmi sambil pulang kampung. Jangan mencari trah, dan mempertanyakan siapa garis keturunan tinggi atau rendah. Semata-mata ingin tudang sipulung dan melihat benda pusaka,” ujar Andi Fashar.
Menjadi terasa ‘kering’ jika hanya pulang kampung bersilaturahmi, membuat panitia mencari ide agar pertemuan bukan hanya sekadar berfoto.’’Makanya kita mengemas ada Tudang Sipulung dengan sajian tradisional dari sanggar –sanggar di kabupaten Bone,’’ ungkap Oddy Andi, Humas kegiatan pertemuan akbar.
Selain itu menurut Andi Promal Pawi, akan ada pameran benda pusaka yang rencana
berlangsung di Pallette di hari yang sama. “Selain Tudangn Sipulung, ada juga pameran benda pusaka. Bagi para wija Puatta yang ingin ziarah ke makam Puatta, panitia juga mempersilahkan ke nagauleng,’’ ungkap Kadis Kebudayaan ini sembari menambahkan ada juga pameran jajanan kuliner Bugis.
Selain menghindari sebagai ajang saling klaim trah darah bangsawan, lanjut Bupati Andi baso Fashar mengungkapkan bahwa tidak ada agenda politik dalam pertemuan nanti.
’’Tidak ada agenda politik. Karena masing-masing panitia dan wija mempunyai latar belakang pekerjaan dan garis politik yang berbeda. Bersilaturhami tanpa membahas latar belakang politik. Itulah kenapa menjadi simbol pertemuan akbar wija Puatta Lapatau ini,’’ jelas Fashar penuh semangat dan dukungan.
Untuk itu bukan hanya yang berasal dari Bone atau Soppeng, Wajo saja yang datang, tapi hampir seluruh daerah nusantara keturunan Puatta Lapatau berjanji akan turut hadir. Mulai dari Maros, hingga Sinjai dan Bulukumba.
“Dari Sulbar hingga Kalimantan bahkan ada yang rencana datang dari luar negeri.’’
Untuk itu baik panitia maupun Bupati sebagai pihak pemerintah menyampaikan, silahkan datang ke pertemuan atau silaturahmi akbar ini. “Jangan lagi ada yang bilang saya di undang atau tidak di undang. Tapi tetap harus registrasi, supaya acara ini bisa menjadi teratur dan mempunyai manfaat bagi kehidupan bermasyarakat,” kunci kordinator Humas Panitia.
Hingga saat ini 300 wija yang dari Sulsel, Sulbar hingga Kalimantan menyatakan kesipatan hadir dalam registrasi peserta. Sejumlah Wija yang merupakan pejabat sudah menyatakan dukungan dan kesiapan hadir diantaranya anggota DPR RI, Andi Muawiyah Ramli, Andi Irwan Aras, Andi Rio Idris Padjalangi, Bupati Maros, Bupati Pinrang, Bupati Bulukumba dan Bupati Kolaka hingga Jendral menyatakan
kesediannya.
(Penulis Andi Fadli, mantan wartawan harian, radio dan tv-freealancer)