MAKALE, UJUNGJARI.COM–Toraja Tourism Board (TTB) bekerja sama dengan Indonesia Coffee Academy (ICA) dan SCOPI menggelar seminar Toraja Coffee Farmer Seminar di Aula Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus, Makale, Rabu (27/10). Kegiatan ini dilanjutkan dengan pesta Kesenian Toraja, Jumat (22/10).
Seminar dilatarbelakangi oleh keprihatinan Kopi Toraja yang banyak dikagumi karena cita rasa dan aromanya namun kerap lupa siapa penghasil biji kopi tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seminar dengan sasaran petani kopi sebagai penggiat industri hulu untuk lebih mengenal industri hilir kopi dengan pemateri dan narasumber ternama. Salah satu narasumber adalah penggiat kopi di Indonesia dari SCOPI, ICA dan Anomali Coffee dengan materi proses menanam kopi yang berkelanjutan yang berujung pada kesejahteraan petani.
Penggagas seminar, Gilang Manggala Hehanussa yang juga HR-BP Anomali Coffee Makassar dan Sekretaris Pandu Tani Sulawesi Selatan mengatakan keterpanggilannya memulai kegiatan ini didadari niat tulus perkenalan pergumulannya mewakili petani kopi di Toraja. Apalagi kakeknya mendiang Drs Ishak B Bitticaca juga merupakan petani kopi.
Menurut Angga, sapaan akrab Gilang Manggala Hehanusa, luar biasa perhatian almarhum terhadap petani mengugah kopi Toraja.
“Saya generasi milenial kopi melanjutkan perjuangan beliau. Semoga kegiatan ini dapat memicu keberlanjutan industri kopi di Toraja,” katanya.
Riniaty Liku Bulawan dari Sustainability Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) menjelaskan isu kopi sustainability Indonesia terkesan kurang perawatan kebun. Akibatnya umur pohon kopi tidak produktif. Demikian pula kurangnya pengetahuan pengolahan, terbatasnya akses pemasaran, semuanya perlu diperhatikan dampak industri kopi ke depannya.
Senada Irvan Helmi, Co Founder Anomali Coffee Indonesia menyebutkan uji cita rasa untuk petani dibutuhkan mindset sama di antara petani kopi, pedagang, roaster dan konsumen yakni uji cita rasa. Menurut dia, harusnya punya standar disetujui dengan sebutan Q-Grader untuk Arabica atau R-Grader.
Donna Elvina dari Indonesia Coffee Academy (ICA) menguraikan dewasa ini di hilir membutuhkan pemuda telaten dan terampil bertani kopi, sebab akan termotivasi menceritakan hasil taninya.
Sedangkang Panca R Sarungu, Ketua Toraja Tourism Board menuturkan Toraja Coffee Farmer Seminar adalah pertama kali diadakan di Toraja yang bertujuan untuk menggalang kembali kedaulatan kopi Toraja yang sempat jaya di masa lalu.
“Kami bekerja sama dengan beberapa stakeholder dan juga para diaspora yang memiliki tujuan sama, hingga suatu saat nanti kopi Toraja akan kembali ditempatkan pada posisi yang penting dalam peta perkopian di nusantara,” katanya.
Seminar dengan tujuan mengembalikan kejayaan kopi Toraja juga untuk mengenalkan teknologi pertanian kopi modern meningkatkan kualitas sesuai standar industri hilir serta meningkatkan kesejahteraan petani lewat peningkatan rasa dan aroma kopi yang sesuai dengan selera konsumen dan industry hilir.
Lily A Salurapa, Sekretaris Jendral Toraja Tourism Board mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari acara Pesta Kesenian Toraja yang diselenggarakan (20-23/10) sekaligus rangkaian Kunjungan Duta Besar Negara Sahabat para diaspora yang memiliki tujuan sama mengembalikan kopi Toraja pada posisi penting perkopian Nusantara.
Senator DPD RI asal Toraja ini menambahkan puncak acara pesta kesenian Toraja akan digelat Minggu ketiga November mendatang. Rencananya acara ini akan dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, H Sandiaga Salahuddin Uno.
Ada beberapa agenda Pesta Kesenian Toraja tahun ini. Di antaranya Road to ToraJAZZ, Sentra Vaksinasi Pekerja Parekraf Toraja, dan Pagelaran Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif. (agus).