MAKASSAR, UJUNGJARI.COM – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 13 Oktober 2021 di Makassar, Sulawesi Selatan.
Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali adalah “Jadi UMKM Juara dengan Pemasaran Digital”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program kali ini diikuti 642 peserta dan menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari Owner Chocolicious Indonesia, Fika Kurniawaty; Direktur Hipwee, Nendra Rengganis; dosen Dept Hukum Teknologi Informasi & Kekayaan Intelektual FH Unpad, Laina Rafianti; serta Entrepreneur, Andi Mattuju.
Adapun sebagai moderator adalah Ady Putong. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 peserta.
Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Memasuki sesi materi, Fika Kurniawaty selaku pemateri pertama mengawali paparan dengan presentasi berjudul “Online Shop, Marketplace dan E-Commerce: Apa Bedanya?”.
Fika membagikan tips jualan daring untuk pemula, di antaranya menentukan harga dan produk yang akan dijual.
“Dalam menentukan harga jual, perhatikan berapa harga jual produk di pasaran, berapa harga yang dipatok supplier, dan berapa biaya operasional yang Anda keluarkan untuk mendatangkan barang,” urainya.
Selanjutnya, Andi Mattuju membawakan materi dengan topik “Strategi Jualan Online”. Andi menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan pelanggan lama terutama yang sudah loyal.
“Kadang kita fokus mencari pelanggan baru tapi pelanggan lama tidak dijaga. Padahal, seharusnya existing customer ini yang bisa menjadi salah satu kanal pemasaran untuk menambah pasar kita ke depannya,” tuturnya.
Sebagai pemateri ketiga, Nendra Rengganis membawakan tema “Literasi Digital dari Spending (Konsumtif) jadi Investing (Produktif)”.
Menurut dia, belanja daring memang mudah dan menyenangkan, tapi juga ada kekurangannya. Di antaranya pilihan tak terbatas, risiko adiksi, dan perlu ketelitian supaya belanja daring jadi aman.
“Cari toko dengan reputasi baik dan jangan pernah mau mentransfer uang di luar platform lokapasar,” tegasnya.
Laina Rafianti sebagai pemateri terakhir, menyampaikan topik “HKI Digital”. Dia menyoroti ihwal perlindungan merek yang bersifat konstitutif, di mana siapa yang lebih dulu mendaftar maka dialah yang berhak.
“Gunakan merek dengan bijak. Sama ataupun mirip dengan merek orang lain, sama-sama pelanggaran. Jadi, percaya dirilah serta gunakan merek sendiri,” tandasnya.
Selanjutnya, Ady Putong selaku moderator memandu sesi tanya jawab yang disambut hangat oleh peserta. Dalam kesempatan tersebut, peserta dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada para narasumber.
Sepuluh penanya beruntung berhak mendapatkan hadiah berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 dari panitia.
“Seberapa besar kita menilai bahwa merek atau logo itu melanggar hak cipta?” tanya Indra, salah satu peserta kegiatan Literasi Digital.
Laina Rafianti menjelaskan, logo merupakan merek yang didaftarkan melalui tata cara perundang-undangan merek.
“Dalam UU merek disebutkan, jika ada merek lain yang memiliki persamaan secara keseluruhan atau persamaan pada pokoknya dengan merek yang sudah terdaftar, itu merupakan pelanggaran merek,” sebutnya.
Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, silakan kunjungi https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.