Sejarah santri adalah sejarah perjuangan. Tepat pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari menyerukan untuk berjihad melawan penjajah yang ingin menguasai kembali wilayah Republik Indonesia. Hari itu menjadi momen santri dan ulama bersatu, berjuang dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan. Peran santri begitu sentral dalam sejarah perjuangan bangsa dan hingga saat ini santri merupakan basis kelas sosial yang memiliki populasi besar.
Mujamil Qomar dalam bukunya Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi tahun 2006 menjelaskan pesantren telah masuk di Indonesia sejak abab ke 15 yang menawarkan pendidikan untuk masyarakat pribumi yang buta huruf. Pesantren pernah menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik pribumi yang berkontribusi membentuk masyarakat Indonesia agar melek huruf dan budaya.
Berdasarkan data dari Kementerian Agama, pada tahun 2016 jumlah pesantren mencapai 28.194 dengan 4.290.626 santri yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah ini terus mengalami tren peningkatan dimana tahun 2005 jumlah pesantren sebanyak 14.798 dengan santri sebesar 3.464.334 orang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Agama Fachrul Razi pada Februari yang lalu mengungkap jika ditotal dengan santri yang tidak mukim maka polulasinya mencapai 18 juta orang dengan jumlah pengajar kurang lebih 1,5 juta. Besarnya populasi santri di Indonesia dan perkembangannya yang terus meningkat seyogyanya dapat dimaksimalkan perannya dalam memajukan bangsa.
Bukan tanpa sebab tren peningkatan perkembangan santri yang terus menanjak. Nilai-nilai Islam yang dipadukan dengan perkembangan zaman menjadi kunci berkembangnya pesantren di berbagai daerah.
Barru Kota Santri
Kabupaten Barru sudah dikenal sebagai kota santri di Sulawesi Selatan. Sejarah panjang santri di Barru telah tercatat rapi dan menjadi bagian dalam perkembangan Barru itu sendiri. Julukan Barru sebagai kota santri tidak terlepas dari sejarah Pesantren Mangkoso. Pesantren yang didirikan oleh ulama kharismatik Abdurrahman Ambo Dalle telah menghasilkan ribuan alumni santri sejak pertama kali didirikan pada tahun 1938.
Mangkoso yang dirintis oleh Anregurutta Ambo Dalle yang juga merupakan murid dari Muhammad As’ad, ulama yang mendirikan Pesantren As’adiyah Sengkang ini awalnya memiliki fasilitas yang sederhana dan terbatas.
Studi yang dilakukan oleh Muhaemin Latif mengenai Pergulatan Pesantren dengan Modernitas pada DDI Mangkoso tahun 2019 menjelaskan jika dukungan pemerintah kerajaan Barru saat itu menjadikan Pesantren Mangkoso perlahan memperbaiki fasilitas belajarnya.
Lebih lanjut, Pesantren Mangkoso dalam awal perjalanannya membebaskan biaya pendidikan bagi santri yang belajar di tempat tersebut. Pesantren yang dilandasi rasa ikhlas dari Ambo Dalle untuk mengabdi menjadi keunggulan yang terus diturunkan kepada muridnya sehingga menjadi pesantren yang besar hingga sekarang. Selepas kepemimpinan Ambo Dalle, Pesantren Mangkoso hingga kini dipimpin oleh Gurutta Farid Wajdi. Ada beberapa hal yang menjadikan Pesantren Mangkoso terus berkembang dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Studi dari Muhaemin Latif mengungkap 4 kuncinya yakni redefenisi makna modernitas, mengembangkan pendidikan Bahasa Inggris, pengembangan karakter kemandiriaan dan adopsi sistem Madrasah.
Oepen yang melakukan penelitian mengenai pesantren menerbitkan buku The Impact of Pesantren in Education and Community Development in Indonesia tahun 1987 menjelaskan Pesantren Mangkoso tidak hanya mendidikan santrinya mengenai agama, melainkan ilmu-ilmu umum yang berorientasi terhadap permberdayaan masyarakat. Hingga saat ini, Pesantren Mangkoso telah menghasilkan ribuan alumni dan mengembangkan sistem pembelajaran hingga pendidikan tinggi. Keberhasilan Pesantren Mangkoso dalam mendidik para santri menjadi tujuan orang tua memasukkan anaknya yang berasal dari berbagai daerah khususnya di Sulawesi Selatan.
Peran Pesantren Mangkoso dalam membentuk karakter pada santri dan sebagai perintis awal pesantren di Kabupaten Barru menjadi corong dalam pembentukan pesantren-pesantren dan sekolah berbasis keagamaan di Barru itu sendiri. Alumni santri yang dihasilkan pesantren-pesantren telah berkiprah di berbagai bidang dan turun berkontribusi besar dalam kemajuan dan pembangunan Kabupaten Barru.
Taman Santri Untuk Barru
Mengutip dari tirto.id yang ditulis oleh Dhita Koesno, modal utama pesantren adalah tradisi kedisiplinan yang melekat pada santri, keteladanan dan sikap kehati-hatian pada kiai dan pimpinan pesantren dalam melakukan proses pendidikan.
Kabupaten Barru yang memiliki banyak pesantren dan berbagai jenjang pendidikan berbasis agama menjadi modal besar memajukan Kabupaten Barru. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan mempertegas Barru sebagai kota santri yakni dengan mendirikan Taman Santri.
Secara psikologis, taman berdampak terhadap peningkatan kualitas kesehatan mental. Taman sebagai ruang publik menjadi ruang sosial, rekreasi dan sarana komunikasi. Juneman Abraham, psikolog dari Universitas Bina Nusantara menjelaskan jika ruang publik berdampak positif terhadap kesehatan mental seseorang, mengurangi stres hingga peningkatan kualitas hidup. Alternatif pembelajaran yang disediakan menjadikan pilihan pembelajaran lebih kaya dan beragam. Pengadaan taman santri menjadi inovasi cerdas dalam memadukan pembelajaran Islam dengan kesehatan mental sehingga proses pembelajaran menjadi efektif.
Pesantren seyogyanya menjadi rumah bagi para santri membangun karakter religius sesuai perkembangan zaman. Memaksimalkan pola kehidupan Islam selaras dengan modernisasi menjadi kunci mempertahankan dan memajukan pesantren dan tentunya pada santri di Kabupaten Barru. Kabupaten Barru sebagai entitas dan menjadi rujukan belajar agama Islam melalui pesantren harus dipertahankan! Selamat Hari Santri Nasional.