MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Irfan Rahmatullah (37) seorang Ojol (Ojek Online) masih terbaring lemas di rumahnya di Jalan Tidung VII, Setapak 09, Kecamatan Rappocini pada Sabtu malam (28/09/2019).
Irfan menjadi korban tabrak lari mobil polisi (barracuda) saat membubarkan aksi demonstrasi mahasiswa di Jalan Urip Sumohardjo, pukul 23:00 WITA, Jumat (27/09/2019). Akibatnya, Irfan mengalami patah tulang di paha sebelah kiri.
Peristiwa itu terjadi saat Irfan menuju Nipah Mall untuk mencari penumpang atau menunggu orderan. Berangkat dari arah Paccinang Raya.
Namun belum sampai di Nipah Mall, dia menemui banyak orang-orang berlarian. Sontak dia panik dan memutar arah sepeda motornya.
“Saya hendak mau ke Nipah Mall cari orderan. Tapi belum sampai, saya temui banyak orang lari-lari di kejar polisi. Tidak mungkin juga saya mau gas motor saya, jadi saya pelan-pelan saja dan putar balik motor saya berlawanan arah. Dan dari belakann tiba-tiba saja langsung ditabrak mobil barracuda, saya jatuh dan terlempar ada sekitar 04 meter,” ujarnya.
Setelah jatuh terpental beberapa meter, Irfan masih sadar dan melihat mobil polisi yang menabraknya itu langsung saja meninggalkan dirinya.
Beruntung warga yang melihat kejadian itu langsung mengangkat serta membawanya ke Rumah Sakit (RS) Ibnu Sina dengan angkutan umum (pete-pete).
“Waktu saya jatuh, saya tidak pingsan. Saya masih sadar dan melihat itu mobil langsung saja kabur. Tidak ada satu pun dari polisi turun. Cuman warga yang bawa saya ke RS Ibnu Sina,” akunya.
Di RS Ibnu Sina, Irfan hanya mendapatkan perawatan medis yang biasa. Seperti pemeriksaan tekanan darah dan foto rontgen untuk mendeteksi kondisi di bagian dalam tubuhnya. Dan hasil foto rontgen mendeteksi tulang di paha sebelah kirinya patah.
“Saya diberikan pilihan dari pihak rumah sakit yaitu, ditindaki dengan operasi atau pulang ke rumah untuk pengobatan alternatif. Kalau operasi biayanya Rp 30 juta dan saya tidak mampu untuk itu,” ucapnya.
Karena merasa berat, Irfan pun meminta ke keluarga dan teman-teman Ojolnya untuk membawanya pulang menggunakan ambulans. Termasuk menyelesaikan juga biaya tindakan medis khususnya rontgen sebesar Rp 700 ribu.
“Saya pilih pulang saja. Saya pulang sekitar pukul 03:00 subuh. Karena kalau lama tinggal di ruangan kena biaya juga sebesar Rp 46 ribu per jamnya dan itu belum lagi masuk biaya tindakan medis dan obat-obatannya. Jadi saya minta pulang,” tambahnya.
Dia berharap adanya pihak kepolisian yang datang dan memperlihatkan itikad baiknya dengan datang meminta maaf atas kejadian tersebut. Karena sejak Sabtu malam pukul 20.00 WITA belum ada satupun pihak kepolisian yang datang meminta maaf.
“Belum ada pihak kepolisian yang datang. Saya cuma berharap pihak polisi datang memperlihatkan itikad baiknya meminta maaf saja. Saya cuma mau pengobatan alternatif atau tradisional saja. Kalau operasi makan banyak biaya karena harus rutin diperiksa,” tutupnya. (Qadri)