MAKASSAR, UJUNGJARI–Program pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dalam menghadirkan ambulans laut diapresiasi kalangan dokter. Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sulselbar bersama USAID Jalin kini sedang merancang Standar Operasional Prosedur (SOP) fasilitas kesehatan itu.
Kamis, 21 Maret kemarin, IDI Sulsel bersama beberapa persatuan dokter melakukan pertemuan khusus membahas rancangan SOP ambulans laut ini di Best Western Hotel, Jalan Botolempangan Makassar. Pertemuan dipimpin Ketua IDI Sulsel, dr Muhammad Ikhsan Mustari.
“Pertemuan kali ini masih sebatas penyamaan persepsi soal pengelolaan ambulans laut. Ini karena ambulans laut baru pertama kali hadir di Sulawesi Selatan,” kata Ikhsan.
Penanggung jawab pengelolaan dan sumber pembiayaan juga ikut dibahas dalam pertemuan kemarin. Ikhsan mengatakan ada banyak opsi dan alternatif pengelolaan dan penanggung jawab ambulans gratis tersebut. Misalnya penanggungjawabnya langsung pemerintah provinsi atau cukup pemerintah kabupaten. Begitu juga anggarannya. Bisa sepenuhnya ditalangi provinsi, bisa juga ditangani kabupaten atau kedua-duanya.
Ikhsan menambahkan pengoperasian ambulans gratis kelak juga melibatkan banyak pihak. Tidak hanya dokter atau tenaga medis dari Dinas Kesehatan, tetapi juga dibutuhkan kontribusi tenaga teknis perkapalan. Begitu juga pihak dan instansi lainnya.
“Ini semua akan dibicarakan secara teknis dalam pertemuan berikutnya. Mudah-mudahan ini bisa rampung lebih cepat. Harapannya, SOP yang akan dikeluarkan nanti akan diperkuat dengan peraturan gubernur,” kata Ikhsan lagi.
Seperti diketahui, pemerintah provinsi Sulsel sudah menghadirkan ambulans laut di Pangkep. Rencananya, pemprov akan menambah jumlah armada ambulans laut di beberapa kawasan pesisir di Sulsel. Di antaranya Selayar, Sinjai, dan Kabupaten Bone.
Pengadaan ambulans laut merupakan salah satu strategi yang dilakukan pemerintah provinsi Sulsel dalam mengurangi angka kematian ibu melahirkan dan bayi. Menurut catatan Kementerian Kesehatan, angka kematian ibu dan bayi di Sulsel masih cukup tinggi. Daerah yang angka kematian ibu dan bayinya tinggi antara lain Selayar, Bone, dan Sinjai. (*)